Kamis, 22 Oktober 2020

Ramadhan Pertama Tanpa Kakek

 



ulan yang penuh berkah tanpa kehadirannya hampa terasa, seperti ada yang hilang. Ramadhan tahun ini merupakan tahun pertama tanpa kehadiran seorang kakek. Suasana rumahpun menjadi berbeda tanpa kehadiranmu. Di saat kami ingin menjalankan shalat tarawihpun terasa ada yang kurang, karena tak ada dirimu. Aku terbayang suaramu sewaktu menjadi imam shalat tarawih. Dia bernama Kh Muchsin Marjuk. Pria kelahiran Serang, 10 mei 1935. Dia merupakan ayah dari orangtua ibuku.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinantikan oleh masyarakat. Banyak perbedaan pada bulan ini dengan bulan-bulan biasanya. Pada bulan ramadhan banyak penjual takjil di pinggir jalan, sahur dan berbuka puasa bersama keluarga, berbuka puasa bersama orang-orang terdekat ataupun bersama orang-orang yang jarang bertemu dengan kita, salat tarawih berjamaah, dan tadarus bersama. Suasana Ramadhan sangat ramai dan gembira, tetapi Ramadhan kali ini pasti berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah menghimbau kita semua agar Dirumah saja menjaga jarak, agar tak tertular covid-19.

Kakekku telah meninggal dunia tahun lalu tepatnya bulan agustus, beliaulah pahlawan sekaligus orang yang aku kagumi, bagaimana aku tidak mengagumi beliau, bagiku beliau orang yang sangat berjasa dikeluarga orang yang sangat mulia terhadap keluarga sayang dan perhatian kepada keluarga.

Beliau telah mendirikan pondok pesantren tahun 1983 hingga sekarang, dari tahun 1996 sampai 2004 sempat menjadi salah satu anggota DPR Kabupaten Tanggamus Lampung dua periode beliau menjabat sebagai anggota DPR, bukan hanya itu beliaupun membantu mendirikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliya, lalu beliau diangkat menjadi ketua umum perguruan tinggi sekolah Al khairiyah provinsi Lampung, dan ketua MUI provinsi lampung.

Kakek sosok inspirasi bagi kami, suaranya peneduh hati kami, kakek hatimu penuh kesabaran tanggung jawabmu penuh pengorbanan untuk kami para anak dan cucumu. Meskipun ragamu jauh dari sisi kami tapi, napasmu selau menghidupi lahir dan batin kami. Takan ada yang bisa menggantikan hadirmu, engkaulah motivasi terkuat untuk jiwa raga kami. Engkau tanamkan kesabaran dan kejujuran kepada kami. Mampukah kami anak dan cucumu ini bertahan tanpa cinta dan kesabaran darimu. Bisakah kami ini melewati semua tanpamu kakek, semoga allah kuatkan hatikami. 

Tulisan ini dimuat dilaman beritalima.com


(Hillyah Rahma Danti/Politeknik Negeri Jakarta)

21 komentar:

  1. Sama. Tapi aku ramadhan pertama tanpa nenk

    BalasHapus
  2. emang kalo bulan ramadan berasa bgt ditinggalnya ya:((

    BalasHapus
  3. Lebaran rumah rasanya sepiii klo udh ginii, apa lagi yangti yangkungku juga udah ga ada semua😥
    Alfatihah in aja yaa

    BalasHapus
  4. Aku ngerasain kemaren ramadhan pertama tanpa nenek 😭

    BalasHapus
  5. Emang gak enak kalau kakek dan nenek sudah tiada😢 puasa dan lebaran terasa kurang hangat karna rumah kakek nenek biasanya dijadiin tempat ngumpul utama semua keluarga besar😭

    BalasHapus
  6. Ramadhan kalau ga lengkap emang sedih banget :( semangat author!

    BalasHapus
  7. Jd inget kakek yang udh meninggal juga

    BalasHapus
  8. Hususon kakake kita udh wafat kita berikan surat Al Fatihah semoga di terima disisinya aminn alfatihah...

    BalasHapus
  9. huft baru taun ini kehilangan pakde, pst lebaran bsk sepi bgt rasanya 😢

    BalasHapus
  10. Keren banget kakeknya, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya :"

    BalasHapus

Selalu Masuk 10 Besar Terbaik, Intip Jurusan di Politeknik Negeri Jakarta

  Depok-  Kampus Politeknik Negeri Jakarta berhasil masuk peringkat 7 dalam 50 besar politeknik terbaik di Indonesia versi Kementrian Riset...